Mengapa Mengajar itu Mesti Dimulai dari Hati Terlebih Dahulu?

Apakah Anda pernah merasa ingin berhenti mengajar? Atau terkadang merasa begitu berat melangkahkan kaki menuju kelas. Pengennya cuma duduk di kantor saja. Bahkan memikirkan pelajaran apa yang akan diberikan hari ini saja rasanya tidak mampu.

Saya rasa semua guru akan mememui masalah serupa. Bukan Anda saja.

Sepanjang yang saya alami, penyebab utama hal tersebut adalah:

  1. Karena kita banyak memikirkan hal lain selain mengajar. Misalnya ada kesibukan administrasi, mikirkan jualan sampingan, mikirkan rumah, mikirkan kegiatan di luar sekolah, pikiran sibuk memikirkan sesuatu yang ingin kita capai (di luar mengajar), dan lain-lain. Oleh karen itu, pikiran ini menjadi tidak fokus.
  2. Hati yang dibiarkan gundah gulana (badmood). Misalkan hati lagi sedih meratapi sesuatu, sedih memikirkan sesuatu yang belum bisa kita capai, dan lain-lain.

Jika menemui masalah seperti itu, cara sederhana yang sering saya lakukan hanya merenung, sembari mengucap Istigfar. Meski sederhana namun kabut perasaan yang menyelimuti hati perlahan-lahan akan sirna dengan sendirinya.

Setelah itu saya tetapkan lagi di hati, tujuan saya hari ini adalah mengajar.

Jika sudah melakukan 2 langkah di atas, hati akan lebih terasa ringan. Ujung-ujungnya kaki akan lebih terasa mudah melangkah.

Jadi intinya semuanya adalah soal hati. Hati kita bersih, fokus, hadir di tempat dan waktu tersebut, maka mengajar juga akan total.

Awalnya ini mungkin hanya pendapat saya saja. Tetapi siang ini saya semakin yakin penting nya menjaga dan mengelola hati, setelah membaca tulisannya Tubagus Salim di FB berjudul Pelajaran Berharga dari Kesalahan.

Intinya dari tulisan tersebut adalah kemurnian dan kesucian hati.

Nah, lagi-lagi soal hatikan?

Jadi jangan sepelekan soal hati. Murnikan hati sebelum mengajar, maka mengajar pun akan dinikmati.

Penutup

Tidak ada cara membuat minat, semangat mengajar yang terbaik selain menjaga dan mengelola hati kita. Semakin bersih fokus dan hati hadir di tempat dan waktu saat itu, maka mengajar pun akan lebih bernyawa.

Posting Komentar