Baikkah Penerapan Ganjaran dan Hukuman dalam Pendidikan?

Sejak dulu pendidikan kita gak lepas namanya ganjaran dan hukuman. Karena cara ini dianggap terbaik dan efektif mempengaruhi, merubah, mendidik dan meningkatkan hasil belajar dan perilaku anak-anak.

Saya yakin, Anda ngalami hal tersebut juga saat masih bersekolah?

Terlambat hadir di sekolah disuruh bersihkan sampah, berkelahi dijemur bahkan bersihkan WC, tidak ngerjakan PR disuruh ngangkat kursi, gak hapal perkalian disuruh tanya ke adik kelas.

Kalau Anda juga pernah ngalami di atas, terkadang #sedih plus malu ngingatnya kan? ðŸ˜­.

amun terkadang juga jadi momen yang tak terlupakan, bahkan jadi bahan obrolan yang meriuhkan suasana saat kumpul dengan teman alumni sekelas, hehe...

Hukuman memang memiliki efek menakutkan, sehingga anak didik jadi mengikuti aturan. Tetapi ada juga lho hukuman ini justru bikin anak-anak ngelawan bahkan berani sama gurunya.

Jadi pertanyaannya, apakah penerapan hukuman dalam pendidikan baik?

Saya tidak bisa menjawabnya. Namun saya hanya bisa memberikan 2 buah pandangan. Berikut ulasannya.

Sudut pandang #pertama

Jika Anda membeli Buku Panduan Memilih Sekolah, maka Anda akan mendapati paparan hasil penelitian tentang ganjaran dan hukuman. Berikut kutipannya.

Hasil peneliti Mark R. Lepper dan David Greene, berkunjung dan mengamati anak-anak di sebuah PAUD. Mereka mengidentifikasi anak-anak yang menggambar pada "sesi aktivitas bebas" yang berarti anak-anak yang menggambar karena suka, bukan karena tugas atau perintah guru. 

Anak-anak tersebut kemudian mengikuti eksperimen untuk melihat dampak ganjaran terhadap kesenangan menggambar.

Anak-anak tersebut dibagi menjadi 3 kelompok yang mendapat perlakukan berbeda. 

Kelompok pertama: anak-anak ditunjukkan sertifikat sebagai "murid baik" dan diminta menggambar untuk bisa mendapatkan sertifikat tersebut. Bila ingin sertifikat, maka kamu harus menggambar.

Kelompok kedua: anak-anak diminta menggambar bila mereka menginginkannya dan diakhir sesi, anak-anak mendapat sertifikat "murid baik", tanpa dijanjikan di awal.

Kelompok ketiga: anak-anak diminta menggambar bila mereka menginginkan. Kelompok ini tidak mendapat ganjaran sama sekali.

Dua minggu kemudian guru menyiapkan peralatan menggambar pada saat "sesi aktivitas bebas". Peneliti mengamati respon anak-anak dari ruangan yang berbeda.

Anak-anak dari kelompok kedua dan ketiga menggambar dengan minat dan durasi waktu yang relatif sama. Sementara anak-anak dari kelompok pertama kurang tertarik menggambar dan durasi menggambar jauh lebih pendek dibandingkan dua kelompok lainnya.

Bahkan ketika gambar ketiga kelompok dinilai oleh ahli, gambar dari kelompok pertama dinilai kurang etis. Ganjaran membuat minat anak menggambar menjadi berkurang.

Tidak hanya itu, mari saksikan hasil riset selanjutnya, kembali mengutip di Buku Panduan Memilih Sekolah.

Daniel Pink dalam bukunya, Drive, memaparkan hasil analisis Deci dan kawan-kawan bahwa ada 128 riset yang menyimpulkan ganjaran yang kasat mata cenderung berdampak negatif terhadap motivasi intrinsik. Lebih jauh lagi, Daneil Pink dengan dukungan hasil riset menunjukkan 7 efek negatif dari ganjaran dan hukuman, yaitu:

  1. Menghilangkan motivasi intrinsik
  2. Menghambat kinerja
  3. Merusak kreativitas
  4. Menghambat perilaku baik
  5. Melahirkan perilaku berbohong dan tidak etis
  6. Menyebabkan kecanduan
  7. Mendorong cara berpikir jangka pendek

Strategi ganjaran dan hukuman efektif untuk memotivasi orang mengerjakan tugas yang bersifat: sederhana, rutin, dan tidak membutuhkan kemampuan kognitif.

Dari beberapa penelitian di atas bisa kita simpulkan, ganjaran dan hukuman ternyata ada sisi tidak baiknya karena memberi efek negatif.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua dan guru meski berpikir ulang memberi ganjaran dan hukuman kepada anak dan peserta didik kita.

Sudut pandang #kedua

Saya memiliki pandangan tersendiri tentang penerapan hukuman ini dalam mendidik. Dasarnya handist Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam berikut ini:

“Perintahkan anak-anak untuk melaksanakan sholat ketika ia berumur tujuh tahun, dan pukullah (bila meninggalkannya) ketika ia sudah berusia sepuluh tahun.” (Shahih Lighairi, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi).

Saya garis bawahi, pukul yang beliau maksud di sini bukan pukul yang tidak menyakitkan ya.

Mari kita cermati kalimatnya.

Anak sudah mesti diperintahkan sholat ketika umur 7 tahun. Namun jika umur 10 tahun dia tidak mau sholat maka boleh dipukul (hukuman).

Anda menyadarinya juga?

Jadi hukuman itu diperlukan bukan?

eski begitu, hukuman bukan sembarang main hukum saja. Ada prosesnya.

1. Ada waktu proses antara penanaman/ pemahaman/ pembiasaan dengan penerapan hukuman

Dari hadist tersebut boleh dihukum ketika umur 10 tahun. Artinya ada jenjang/ jarak 3 tahun.

Artinya apa?

Sebelum mengambil langkah hukuman, hendaknya memberi pelajaran, menyampaikan, menjelaskan, mengajak. Nah jika anak masih tidak mau diarahkan, baru diterapkan hukuman.

Jadi bukan berarti, ada murid baru langsung diterapkan aturan ketat. Ibaratnya baru start langsung diulek-ulek.

Terlambat hadir di sekolah disuruh bersihkan sampah, berkelahi dijemur atau bersihkan WC, tidak ngerjakan PR disuruh ngangkat kursi, gak hapal perkalian disuruh tanya ke adik kelas. Bahasa kasarnya, #sikat trus.

Kalau gitu stres anaknya. Saya yakin pengaruhnya gak bakal lama, malah gak mempan. Hukuman gak ada artinya, malah dia jadi mau nantang.

2. Mulai dari ringan meningkat ke berat

Menerapkan hukuman pun ada dosisnya. Gak semerta-merta anak salah langsung "dihajar".

Ada prosesnya....

  • Mulai dari buat kesepakatan, beri contoh gambaran, lalu uji coba.
  • Evaluasi bersama jika ada pelanggaran.
  • Ingatkan mereka dulu kesepakatan di awal, ingatkan lagi.
  • Nah setelah masih saja melakukan pelanggaran baru beri hukuman ringan dan seterusnya hingga hukuman yang kita anggap "berat".

Hukuman "berat" yang saya maksud di sini bukanlah hukuman yang memberatkan dan menyakitkan, seperti bersihkan WC, lari keliling lapangan, jalan kodok, push up. Itu sih gaya militer namanya.

Hukuman "berat" di sini menurut pandangan saya adalah hukuman yang mendidik, yang ada proses belajarnya. Misal, ngerjakan soal, menulis perkalian, bikin proyek, menghafal surah dan lain-lain.

Jadi pandangan pertama atau kedua yang benar?

Menurut saya, benar keduanya.

Jika kita perhatikan hadist di atas tadi, sebenarnya senada dengan penelitiannya Mark R. Lepper dan David Greene yang saya paparkan di awal.

Di mana kesamaannya?

Perhatikan hasil penelitian tersebut, bahwa kelompok pertama minatnya menurun dan hasil gambar kurang etis. Itu karena dari awal diadakan perjanjian bukan? Yaitu mendapat sertifikat "anak baik".

Kalau kita mengacu ke hadist, Nabi juga tidak mengajarkan ganjaran dan ancaman di awal. Hanya memerintahkan anak untuk berproses beberapa waktu.

Hukuman baru dijalankan sesudah anak melalui serangkai pembiasaan.

***

Oh ya, untuk ganjaran pun saya rasa kurang lebih sama..

Boleh saja diberi ganjaran tanpa ada perjanjian di awal. Namun ketika anak berhasil meraih prestasi, bisa mengerjakan sesuatu, baru diberi ganjaran. Dengan begitu anak merasa dihargai.

Namun asal jangan rutin. Takutnya jadi ketergantungan.

Back to topic...

Berbicara hukuman. Di Al-quran pun sangat jelas. Bukankah isinya petunjuk, peringatan, ganjaran dan hukuman?

Bagi yang bertaqwa syurga balasannya, namun jika ingkar neraka yang didapat.

Bukankah hidup ini adalah proses belajar yang tak henti. Artinya pendidikan pun tidak lepas juga dari konsep ganjaran dan hukuman.

Jadi, gimana kalau gak mau nerapkan sama sekali ganjaran dan hukuman?

Kehidupan ini adalah tetang menjalani baik dan hidup. Tugas kita untuk mengarahkan anak-anak kita.

Memang dari segi sisi ganjaran dan hukuman dalam pandangan peneliti orang barat, berdampak negatif. Tetapi saya pribadi masih memegang pendapat ajaran Islam sendiri.

Bahkan kalau di pesantren, anak betul-betul dididik perilaku/ adabnya. Banyak aturan untuk membentuknya. Kalau melanggar mendapat hukuman.

Nah sebenarnya sah-sah saja makai pandangan "pendidikan tanpa ganjaran dan hukuman". Namun kita juga perlu berfikir panjang.

Mari sejenak merenung. Apakah pendidikan tanpa ganjaran dan hukuman akan menjadikan anak berperilaku baik?

Buktinya selama ini pendidikan kita yang menerapkan hal ini, Indonesia menjadi negara yang toleransi tinggi. Dibanding negara barat yang menganut pendidikan Liberal (bebas).

Jangan sampai mengatas namakan pendidikan, anak-anak dibiarkan, diberi kebebasan. (Pendidikan ala liberal).

Contoh konkrit nih, kalau dikelas saya makai prinsip belajar kaya pesantren. Saya lebih memilih menerapkan adab antara murid dan guru. Gak mau anak-anak semaunya di kelas.

Tetapi sayangnya sekolah tempat saya ngajar adalah sekolah negeri, sistem suasana nya tidak terbentuk seperti pesantren, tetapi kita yang bentuk. Beda dengan pesantren, peserta didik yang baru masuk tanpa perlu banyak diarahkan akan mudah mengikuti adab di sana, karena sistem di dalamnya sudah terbentuk lebih dahulu.

Kalau di sekolah negeri gak bisa gini. Kelas baru, perlu dibentuk dari nol secara bertahap. Oleh karena itu, mau tidak mau perlu penerapan ganjaran dan hukuman.

Kalau dibiarkan, tentu anak bisa semaunya di kelas.

Rekan saya ada lho yang anak muridnya semaunya di kelas. Menurut saya adab nya rendah sekali.

Ketika dia ngajar, ke sana kemari, motong bicara guru, naik meja malahan (pas saya  lihat sendiri pas lewat depan kelasnya), Astagfirullahaladzim.

Baikkah kira-kira?

Bukankah anak-anak seperti tunas bambu. Jika kita biarkan tumbuh bengkok, maka ketika besar selamanya tetap bengkok?

Mau gitu?

Saya kira itu gunanya mendidik anak dengan dengan aturan/ pembiasaan. Dan menegakkannya dengan ganjaran/ hukuman.

Penutup

Jadi, baikkah penerapan hukuman dalam pendidikan? Kembali kepada diri masing-masing. Namun bagi saya, saya makai kedua pandangan di atas. Tinggal ambil tengah-tengahnya.

Posting Komentar