Merasa Menjadi Guru itu Susah?

Benarkah jadi guru itu susah?

Memang kalau dipikir-pikir, susah sih.

Seperti yang diungkapkan payscale, "Mengajar lebih sulit daripada yang dipahami kebanyakan orang". 

Dalam tulisan itu disajikan juga beberapa hal yang membuat pekerjaan mengajar bisa jadi sulit.

Saya setuju akan hal itu.

Tapi kalau saya beropini, mudah tidaknya tergantung perspektif. Tapi tidak mengesampingkan bahwa kesulitan itu ada.

Ya kesulitan sudah pasti ada, dan kemudahan juga pasti ada.

Inspirasi QS. Asy-Syarh

Benar sekali jadi guru itu susah. Meski begitu, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kemudahannya juga ada.

Saya terinspirasi dari QS. Asy-Syarh ayat 5-6:

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (5). Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan (6).

Dalam surah tersebut diulangi dua kali kalimat "...beserta kesulitan ada kemudahan".

Dari sini saya tersadarkan kembali. Mungkin selama ini yang salah adalah cara pandang kita.

Ketika melihat kesulitan, kita lupa memandang kemudahannya. Sehingga kita hanya terjatuh pada jurang keluhan.

Contohnya, ketika awal-awal BDR (Belajar Dari Rumah), mungkin rekan pernah dengar guru mengeluh seperti ini.

"Susah mengajar lewat daring"

"Susah ngajar tidak bertemu langsung"

"Susah memberi tugas, karena tidak bisa IT".

Kalau dipikir lagi, mungkin ini cocok dengan ayat yang saya maksud. Sebagian besar dari kita, fokusnya hanya kesulitannya bukan? Padahal di samping kesulitan tersebut sudah ada kemudahannya.

Seperti keluhan "Sulit mengajar daring", padahal justru mengajar daring beban mengajar lebih ringan. 

Sesuai yang disampaikan oleh Mas Men, saat pandemi ini tidak dituntut untuk menyelesaikan kurikulum, justru boleh merancang kurikulum sendiri. 

Tapi kita apa, masih dibutakan dengan "kesulitan".

Selanjutnya keluhan, "Susah ngajar tidak bisa ketemu langsung". Justru sebenarnya ngajar ketemu langsung lebih sulit. Terbukti kadang banyak guru puyeng di kelas yang sering ribut.

Nah ketika BDR belajar online, kan polusi suaranya berbeda drastis.

Selanjutnya keluhan "Susah memberi tugas, karena tidak bisa IT". Justru tugas sangat mudah menggunakan IT.

Kan tugas bisa lewat grub WA, lewat google form, dan lain-lain. Dalam hal waktu, kita memberi dan memeriksa pekerjaan peserta didik menjadi lebih fleksibel.

Inspirasi pertandingan Barcelona

Inspirasi kedua kenapa muncul tulisan ini adalah ketika saya nonton pertandingan bola Copa Del Rey antara Barcelona vs Sevilla. Yang mana leg pertama Barca kalah 2-0.

Awalnya saya berpikir, Barcelona bakal sulit untuk membalikkan keadaan. 

Hingga akhir babak kedua pertandingan, Barca hanya mampu mencetak 1 gol. 

Bahkan nih ketika babak kedua, Sevilla diberi hadiah pinalti, yang membuat semua orang befikir, Sevilla bakal juara.

Ternyata pinalti Sevilla tidak membuahkan goal. Alhasil asa kesempatan masih ada.

Bertubi-tubi serangan Barcelona, pasing pendek, penguasaan bola yang kuat, dan total football. Hingga hampir berakhir babak kedua, tidak terlihat kemungkinan goal.

Yang tidak disangka ketika hampir habis waktu babak kedua, Grizman memberi umlan lambung, dah membuahkan goal berkat sundulan Pique.

Sialnya Sevilla saat itu juga mendapat kartu merah, sehingga hanya bermain dengan 10 orang.

Yang luar biasa lagi, ketika babak tambah waktu, Barca kembali bisa mencetal goal lewat umpan lambung Jordi Alba.

Saya masih tidak percaya, Barcelona bisa membalikkan keadaan.

Nah di sini saya kembali teringat dengan QS. Asy-Syarh ayat 5-6. Kesulitan itu berdampingan dengan kemudahan.

Barcelona kesulitan membuat goal dengan pasing pendek, penguasaan bola. Semua usaha seakan buntu. 

Ternyata kemudahannya ketika umpan lambung, dan keduanya membuahkan goal lewat goal sundulan.

Jadi benar, "...beserta kesulitan ada kemudahan".

Inspirasi PPG

Inspirasi terakhir adalah pembelajaran daring selama PPG tahun 2020. 

Waktu itu ada saja yang mengeluh.

Katanya lebih enak jika PPG ketemu langsung, dari pada harus lewat google meet sama zoom.

Nah kan lagi-lagi sepertinya memang mind set nya kita ini lebih mendahululan kesulitannya bukan kemudahannya.

Padahal kalau dipikir, justru PPG dengan model full daring ini sangat memudahkan.

Kemudahan pertama, biaya sangat murah dibanding penyelenggaraan PPG tahun yang lalu, yang mana harus ke LPTK penyelenggara beberapa bulan. Otomatis kita harus mengeluarkan biaya makan, tempat tinggal dan transportasi, dan lain-lain. Sedangkan lewat daring, kami cukup modal kuota. 

Selain itu waktu untuk pertemuan google meet lebih fleksibel. Tugas pun lebih mudah mengerjalan, karena banyak waktu mencari di internet.

Penutup

Nah itu dia tadi, perspektif lain apakah menjadi guru itu susah? Jadi, meskipun ada kesulitannya, jangan jadikan hal tersebut yang menjadi fokusnya. Lebih baik fokus pada kemudahannya. Karena "...beserta kesulitan ada kemudahan".

Demikian tulisan hari ini, seeoga tulisan di atas bisa mencerahkan. Sehingga kita tidak selalu dan selalu mendahulukan berpikir sulit. 

Untuk menutup tulisan ini saya ingin mengutip quotenya Ki Jendral Nasution, dalam buku Mantra Covert Selling.

What we think, is what we felling.