6 Rangkaian Proses Saya Mendapat Google Certified Educator Lev.1

Bagi saya, Google Certified Educator bukan hal terbayangkan bisa mendapatkannya. 

Awalnya, saya hanya mengetahui dari trainer yang bergelar tersebut, ketika mengikuti Workshop Google Suite, awal tahun 2021 ini.

Kemudian saya mendapatkan informasi, REFO membuka beasiswa pelatihan Google Master Trainer (GMT). Dan saya didorong oleh Master Deni Ranoptri, untuk mengikutinya.

Google Certified Educator sebenarnya bisa bagi siapa saja mendapatkannya. Namun bagi saya melalui Google Master Trainer (GMT) oleh REFO menjadi sesuatu yang lebih spesial.

Kenapa terasa spesial? Karena untuk mendapatkannya, harus melalui serangkaian proses.

1. Lulus seleksi program GMT (Google Master Trainer)

Seperti yang saya utarakan di awal tadi, saya memberanikan diri mendaftar program GMT yang diadakan oleh REFO. Ternyata dari 3.000 orang pendidik yang mendaftar, hanya 1.000 orang yang terpilih, termasuk saya.

Dari kuesioner yang saya isi saat mendaftar, sepertinya diutamakan yang saat ini mengikuti organisasi, entah KKG, PGRI, dan lain-lain.

Kebetulan saya ada mengikuti 2 organisasi guru, yaitu:

  1. sekretaris di KKG Gugus Samudera
  2. Ketua bidang informasi dan komunikasi, di PGRI Kec. Pulaulaut Utara

2. Pelatihan 4 minggu

Setelah lulus seleksi GMT, proses selanjutnya adalah mengikuti pelatihan selama 4 minggu. Dimana setiap hari Sabtu, ada webinar yang mesti diikuti.

Selain itu, ada serangkaian tugas wajib dikerjakan, yaitu try out teori dan try out praktek. Dimana nilai minimal mesti 80.

Selain melalui Google Classroom, kami berinteraksi dengan coach dan 1000 peserta melalui Google Chat. 

3. Pengimbasan minimal 50 peserta

Serangkaian pelatihan selama 4 minggu, ditutup dengan tugas wajib pengimbasan. Dimana level 1 jumlah peserta minimal adalah 50 orang.

Strategi ini terbalik dengan GMT awal-awal, dimana GMT sebelumnya dimulai dari:

  1. pelatihan, 
  2. ujian,
  3. pengimbasan. 
Nah di GMT Batch 4 yang saya ikuti ini urutannya di balik, dimulai dari 

  1. pelatihan, 
  2. pengimbasan,
  3. ujian.

Saya bersama 4 GMT mengadakan workshop yang diikuti oleh 340 peserta pada tanggal 15-17 Juli. GMT tersebut antara lain:

  1. Deni Ranoptri, S.Pd.
  2. Taufik Junaidie, S.Pd. (saya sendiri)
  3. Cicik Juni Nurhidiyah, S.Pd.
  4. Komala Hidayatun Najiyah, S.Pd.

4. Ujian pertama yang berat dan berujung gagal

Seperti judul tersebut, ujian GCE ini saya rasa berat sekali. Bukan karena saya tidak menguasai. Tapi saat itu saya demam, meriang, badan sakit, flu, batuk, dan tidur tidak karuan saat malam hari (belakang hasil SWAB saya terindikasi reaktif).

Karena batas waktu kelulusan agar bisa melanjutkan L2 yang ditetapkan REFO sangat dekat yaitu 4 Agustus 2021, sedangkan saat itu sudah tanggal 30 Juli. Maka dari itu secepatnya saya mengikuti ujian.

Waktu itu saya laksanakan tengah malam ketika terbangun tidak bisa tidur, sekitar jam 1 malam.

Sialnya, malam itu saya tidak menyiapkan diri seperti menaruh air minum di dekat duduk, dan tidak men-silent HP. 

Benar saja, tes yang saya jalani selama 2,5 jam itu sungguh menyiksa badan karena tidak bisa apa-apa. Mau jalan ngambil minum tidak bisa, karena camera webcam aktif. 

Yang parah lagi, tengah malam suara HP saya berdering karena ada telpon masuk. Tanpa saya tau dampaknya, saya utak-atik saja HP tersebut.

Belum lagi, saya bicara-bicara sama istri, karena dia terbangun dan menanyakan sesuatu.

Hasilnya seperti yang kita duga, saya tidak lulus. Saya dapat email pemberitahuan di pagi harinya.

Setelah itu, saya sama teman GMT melalui grub WA, mengevaluasi permasalahan ini. Karena saya dan Bu Cicik juga tidak lulus.

Setelah kami evaluasi, ternyata kesalahan kami sama:

  1. Mata melihat ke mana-mana, keluar pandangan dari laptop.
  2. Mengotak-atik HP 
  3. HP tidak di-silent
Kemungkinan kami dianggap tidak jujur mengerjakan, meskipun saya mengerjakan dengan kemampuan sendiri tanpa contak contek, dan lain-lain.

5. Ujian ulang

Hasil gagal yang saya terima, untungnya tidak membuat saya patah arang. Saya teringat quotenya Bang Deni Ranoptri.

Selain itu, saya semakin dibuat penasaran. Bagaimana tidak, kegagalan karena hanya kesalahan sepele. Sedangkan teman-teman GMT sudah banyak yang lulus, dan batas akhir sudah sangat mempet.

Saya mengajukan voucer ujian ulang, dan disetujui pada tanggal 2 Agustus 2021.

Malamnya pada tanggal 3 Agustus 2021 saya ikuti ujian. Kali ini saya sudah mempersiapkan dengan matang.

  1. Mempelajari lagi materi dan praktek
  2. Tidur lebih awal
  3. Menyiapkan minuman di samping duduk
  4. Men-silent HP
  5. Mata fokus hanya ke laptop
  6. Mengkondisikan anak dan istri agar jangan mengajak bicara saat saya ujian
  7. Badan lebih fit, karena sudah mulai sehat

Malam itu rasanya saya sangat siap, dan pasrah saja dengan hasilnya. 

Dan beberapa jam kemudian saya menerima email pemberitahuan seperti ini. 

Saya dinyatakan LULUS UJIAN.

Alhamdulillah.

Pagi itu serasa dapat durian runtuh bro. Serasa ada sesuatu yang lepas di kepala ini. Hehe...

6. Google Certified Educator Level 1

Akhirnya saya bisa mendapatkan Google Certified Educator Level 1. Ini serasa begitu mahal, dengan mengingat proses yang saya lalui.

Saya merasa sangat senang dengan pencapaian ini, karena proses yang saya jalani tidak begitu mulus.

Seandainya lulus dengan mudah, mungkin saya tidak merasa emosional begini 😀

Bagi beberapa orang mungkin ini adalah hal biasa. Namun bagi saya adalah pengalaman yang berharga.

Penutup

Google Sertified Educator adalah hanya sebuah sertifikat. Sertifikat sesungguhnya adalah bagaimana kita menjalaninya, menerapkan ilmu yang kita miliki, mau mengamalkan, menyampaikan dan berbagi dengan banyak orang.

Sertifikat sesungguhnya adalah bagaimana kita menjalaninya, menerapkan ilmu yang kita miliki, mau mengamalkan, menyampaikan dan berbagi dengan banyak orang

Demikian cerita singkat saya pengalaman saat ujian Google Certified Educator Lev. 1. Jika ada pengalaman yang serupa dengan saya, jangan malu-malu tambahkan di kolom komentar ya.