System

Kemampuan Diri

Taufik Junaidie Taufik Junaidie 2 min read

Hari ini saya mendapat pemikiran yang sedikit menarik, ketika membaca salah satu quote yang saya baca dari email berlangganan James Clear, yang masuk inbox malam tadi pukul 01.48 WITA waktu Indonesia. Kebetulan saya penggemar berat James Clear semenjak membaca buku Atomic Habits, yang sangat menginspirasi saya.

Kalau ditranslate-kan ke Bahasa Indonesia, kurang lebih seperti ini:

Ahli matematika dan komputer Seymour Papert tentang bagaimana keyakinan kita membentuk tindakan kita dan mengapa kita harus mencoba mempelajari hal-hal baru:

“Sebagian besar masyarakat yang tidak diketahui namun pasti jumlahnya signifikan, hampir sepenuhnya menyerah dalam belajar. Orang-orang ini jarang, bahkan mungkin pernah melakukan pembelajaran dengan sengaja dan menganggap diri mereka tidak kompeten dalam hal tersebut dan tidak mungkin menikmatinya. Dampak sosial dan pribadinya sangat besar.

Walaupun gambaran diri yang negatif dapat diatasi, dalam kehidupan seseorang gambaran tersebut sangat kuat dan menguatkan diri sendiri. Kekurangan menjadi identitas: "Saya tidak bisa belajar bahasa Prancis, saya tidak punya kemampuan berbahasa;" "Saya tidak akan pernah bisa menjadi seorang pebisnis, saya tidak mempunyai pemikiran mengenai angka-angka;"...

Jika orang cukup yakin bahwa mereka tidak bisa mengerjakan matematika, mereka biasanya akan berhasil mencegah diri mereka sendiri melakukan apa pun yang mereka anggap sebagai matematika. Konsekuensi dari sabotase diri tersebut adalah kegagalan pribadi, dan setiap kegagalan memperkuat keyakinan awal. Dan keyakinan seperti itu mungkin paling berbahaya jika dianut tidak hanya oleh individu, tapi juga oleh seluruh budaya kita.”

Sumber: Mindstorms (sedikit diedit agar lebih jelas)

Tanggapan saya

Dari quote tersebut saya sangat setuju, bahwa sebenarnya kegagalan belajar bukan karena tidak bisa, namun tidak ada keinginan kuat.

Sampai di situ saya sepakat, katena saya mengalami langsung ketika duduk di bangku sekolah. Bahkan ketika mengajar dan berbagi pun banyak terjadi hal ini. Contoh ketika saya berbagi pemanfaatan Google Workspace for Education dalam pembelajaran. Namun masih banyak guru-guru yang malas dan bahkan tidak mau menerapkan dalam pembelajaran. Alasannya klasik, ada yang merasa sulit menggunakan, ribet, tidak ada jaringan, minim fasilitas, dan lain-lain.

Apakah mereka tidak bisa?

Jawabannya sebenarnya mereka bisa. Apapun yang diusahakan pasti bisa. Dan ini berkesesuaian dengan pemahaman saya dari quote di atas.

Yang jadi masalah adalah, mereka merasa susah lebih dulu. Ini sama yang saya rasakan ketika disodori belajar matematika. Meskipun saya dulu waktu SMA jurusan IPA, namun pengalaman saya dulu sekolah yamg memaksakan diri belajar exact, perlu effort besar sekali. Karena memang kemampuan saya lemah di bidang exact. Dibandingkan ketika saya belajar tentang teknologi, desain, editing, rasaya lebih mudah dan cepat.

Nah mungkin, itu juga yang dirasakan guru guru selama ini. Kenapa masih banyak guru-guru belum memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Bukan mereka tidak bisa, tetapi muncul penolakan lebih dulu dari dalam diri mereka.

Lalu apakah hal tersebut salah?

Tidak salah. Yang salah adalah jika kita menutup diri sama sekali terhadap hal-hal baru. Contohnya perkembangan zaman saat ini yang memang menuntut guru juga mestinya berkembang. Seperti pemanfaatan TIK. Yang mana pemanfaatan TIK itu padahal tidak selalu yang selalu susah-susah. Ada yang sederhana, misalkan menggunakan media youtube, lagu, vidio, LCD, dan lain-lain. Semestinya hal-hal sederhana bisa diterapkan.

Meski begitu, supaya adil saya coba ambil perspektif lain. Bahwa mereka juga tidak salah, jika masih menggunakan cara-cara tradisional. Karena balik lagi ke pertanyaan, apakah kita menguatkan kemampuan kita yang sudah tajam? atau memaksakan hal baru yang kita tidak menguasai?

Contoh ada teman yang ahli diteknis seperti pertukangan, memasak, melatih drumband, mendesain, tapi begitu tidak suka pembelajaran yang berbau daring atau TIK. Jika dipaksakan tentu akan membuat mereka tidak maksimal. 

Apakah salah?

Jawabannya tidak. Karena yang terpenting bukan senjatanya mesti sepanan, pistol, dan lain-lain. Tetapi siapa dan bagaimana menggunakan senjata tersebut. Meskipun hanya pisau, tetapi memiliki skill menggunakannya, akan jauh lebih efektif dibandingkan menggunakan senjata yang tidak memiliki skill sama sekali.

Penutup

Demikian opini saya pada hari ini, mudahan tulisan ini bisa membawa manfaat. Intinya kita tetap membuka diri untuk hal-hal baru, seperti menggunakan TIK dalam pembelajaran. Meskipun kita merasa tidak bisa, namun jangan menolak mentah-mentah.

Silahkan komen ya, biar ada sharing antar kita.

Taufik Junaidie
Taufik Junaidie Kepala Sekolah, Finalis 5 besar SRB 2022, Certified Teacher, Google Certified Educator Lev. 2, Juara 1 Vidio Animasi se Kalsel, and Blogger
Komentar