Studi Kasus Penerapan Istirahat Otak Setiap 45 Menit Tatap Muka

Pernahkah peserta didik Anda bertanya, "Sudah istirahat Pak?" (padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 9 pagi). Artinya masih ada 45 menit lagi waktu normal menuju istirahat pertama.

Sekilas mungkin Anda merasa, anak ini tidak tahu sekarang jam berapa. Tetapi faktanya di depan kelas terpampang jam dinding dan jadwal istirahat.

Sayangnya, fakta ini saya abaikan setiap tahunnya. Pikir saya, "maklum anak-anak suka asal tanya, atau pembelajaran saya mungkin kurang menyenangkan".

Permasalahan ini kembali mengusik pikiran saya, ketika membaca buku Teach Like Finland.

Ternyata negara yang mendapat peringkat 1 negara literasi dunia ini, sistem belajar di sekolah di sana justru menerapkan 4 kali istirahat setiap hari, atau istirahat setiap 45 menit tatap muka.

Hal ini berbeda sekali dengan sistem belajar di Indonesia.

Lalu saya pikir, apakah ini ada kaitannya dengan permasalahan yang saya ungkapkan di awal tadi? Apakah ada hubungannya antara lamanya waktu belajar dengan tingkat fokus belajar peserta didik?

Inilah studi kasus penerapan 45 menit belajar dan 15 menit istirahat. Studi kasus yang berusaha menemukan hubungan lamanya belajar, banyaknya istirahat dengan peningkatan kepuasan belajar dan mempertahankan fokus selama jam belajar.

Dasar pikiran

Selain permasalahan yang saya ungkapkan di atas, berikut 4 alasan utama saya dan sekaligus menjadi dasar pikiran membuat studi kasus ini.

1. Sudah lama tertarik dengan negara Finlandia

Hal ini bukan semata-mata kebetulan saya membeli buku Teach Like Finland. Karena sebelumnya saya memang sangat penasaran dengan kualitas pendidikan di negara ini.

Mengutip dari kompas, hal tersebut sudah dibuktikan dari sebuah studi yang dilakukan John Miller, presiden Universitas Central Connecticut State di New Britain, menempatkan Finlandia sebagai negara paling terpelajar di dunia.

Hasil studi John Miller, menempatkan Finlandia sebagai negara paling terpelajar di dunia.

Luar biasa.... Bahkan bukan hanya itu.

Ada fakta baru saya ketahui, dijelaskan dari Buku Teach Like Finland tentang studi OEDC (Organization for Economic Cooperation and Development/Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi) tahun 2001 silam.

Poin keberhasilan Finlandia yang bisa saya kutip dari hasil studi OEDC tersebut, yaitu tentang kemampuan anak-anak berusia 15 tahun yang berhubungan dengan keterampilan membaca, matematika dan ilmiah yang telah mereka peroleh di dalam dan luar sekolah, yang dikenal dengan PISA (Programe for International Student Assessment/Program Penilaian Siswa Internasional), antara lain:

  • Finlandia dengan populasi 5.5 juta orang menunjukkan seberapa baik orang muda akan berhasil memahami pengetahuan ekonomi yang dinamis ketika mereka beranjak dewasa.
  • Pencapaian siswa di antara sekolah-sekolah yang berbeda kurang bervariasi.
  • Pembelajaran anak-anak di sekolah tidak terlalu dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dibandingkan negara lainnya.

Hal ini yang membuat saya bertanya-tanya? Bagaimana sebenarnya sistem pendidikan di sana.

Bagaimana dengan Anda setelah mengetahui hal tersebut, apakah juga membuat Anda semakin tertarik dengan negara Finlandia?

2. Merasa ada kejanggalan lamanya waktu sistem belajar di Indonesia

Kembali ke permasalahan awal yang sudah sempat saya utarakan di awal.

Permasalahan sederhana peserta didik yang suka bertanya kapan waktunya istirahat, atau gelisah ingin cepat keluar kelas, dan lain sebagainya. Bagi sebagian guru bahkan bagi saya sendiri awalnya menganggap hal tersebut adalah bukan masalah besar.

Namun mari kita flashback ke masa saat kita juga duduk di bangku sekolah, terutama saat SD.

  • Pernah kah Anda juga merasa waktu belajar pagi begitu lama?
  • Pernahkah Anda selalu melihat jam dinding, rasanya lambat betul bergerak menuju waktu istirahat?
  • Pernahkah Anda merasa penat duduk, dan kaki rasanya tidak betah diam di kursi belajar?
  • Pernahkah fokus pikiran Anda hanya teralihkan ke warung kantin?
  • Pernahkah hati Anda menggerutu, lama sekali rasanya belajar di kelas?
  • Pernahkah Anda merasa pikiran Anda tidak bisa fokus sama sekali?

Saya rasa semua hal tersebut pernah kita semua mengalaminya.

Di mana letak kejanggalannya?

Mari kita lihat jadwal pelajaran standar Untuk KTSP kelas 5 D berikut ini.

Kenapa KTSP?

Karena saya ingin menggambarkan dengan jelas sesuai yang saya ketahui, karena sekolah saya saat ini masih menerapkan KTSP.

Contoh jadwal KTSP Kelas Tinggi - Arsip pribadi

Contoh jadwal K13 Kelas Tinggi - mengutip dari fileterbaru.com

Untuk KTSP, pagi hari lamanya belajar 3 jam pelajaran (JP), yaitu belajar dari jam 08.00 sampai 09.45 (artinya sesi belajar pertama selama 1 jam 45 menit). Kemudian sesi kedua dari jam 10.00 - 11.10 (artinya sesi belajar kedua selama 1 jam 10 menit). Sesi ketiga dari jam 11.25 sampai 12.35 (artinya sesi belajar ketiga selama 1 jam 10 menit juga).

Coba anda perhatikan antara sesi 1 dengan 2. Ada perbedaan 35 menit.

Kira-kira kenapa jadi begitu?

Apakah alasannya karena pagi?

Apakah pagi dianggap idieal belajar tanpa henti lebih dari 1 jam?

(Coba Anda juga perhatikan jadwal pelajaran K13, bukankah kurang lebih sama, jadwal pelajaran tanpa henti lebih dari 1 jam bahkan sesi belajar kedua hampir 2 jam).

Sekarang kita kembalikan ke posisi kita jika belajar, membaca, menulis, sanggupkah selama 1 - 2 jam tanpa henti? Di antara kita mungkin memiliki ada memiliki ketahanan dengan waktu tersebut bahkan lebih.

Namun saya percaya, sebagian dari kita tidak ada yang tenang, dan pasti merasa gelisah.

Kenapa saya mengatakan seperti ini?

Karena saya juga pernah sekolah SD, SMP, SMA dan kuliah.

Mari kita pikir kembali, apakah ada penelitian atau sesuatu yang bisa membuktikan belajar dengan mem-press otak saat pagi hari memiliki ketahanan lebih lama dibandingkan siang hari?

Saya rasa belajar saat pagi maupun siang tetap mengatuk, betul?

Bahkan sampai saat ini saya tidak bisa menemukan dasar aturan 1 jam pelajaran adalah 35 menit.

"Dasar aturan 1 jam pelajaran adalah 35 menit dari mana ya? ada yang tau?".

Kok setiap 1 JP harus 35 menit? Kenapa tidak 30 menit saja atau 45 menit sekalian?

Dan sampai saat ini saya belum menemukan, dari mana susunan jadwal pelajaran dengan 2 kali istirahat yang kita pakai di sistem pendidikan kita.

3. Ternyata di Finlandia menerapkan 4 kali istirahat setiap 45 menit tatap muka setiap hari

Saya rasa bukan tanpa alasan waktu istirahat di Finlandia lebih banyak dari pada negara-negara lain. Hal ini sudah dibuktikan manfaatnya.

Seperti proyek peneliti Debbie Rhea, ahli kinesiologi berkebangsaan Amerika yang melakukan proyek penelitian di banyak sekolah Amerika.

Hasilnya menjanjikan..

Para pendidik di Sekolah Dasar Eagle Mountain di Forth Worth, Texas, melaporkan suatu perubahan yang signifikan dalam diri para siswa, yang mendapatkan 4 kali istirahat 15 menit setiap hari, sebagai contoh :

  • Mereka menjadi fokus.
  • Mereka jarang mengeluh lagi.
  • Salah seorang guru kelas di sana bahkan melihat bahwa siswanya berhenti mengunyah-nguyah pensil (Connelly, 2006).

Dari penelitian, hasil yang signifikan dalam diri para siswa, 4 kali istirahat 15 menit setiap hari.

Jika dipikir memang masuk akal. Otak manusia tidak bisa selalu di-press untuk berfikir. Otak juga perlu diberi istirahat dengan memberi jeda berpikir.

Bahkan bekerja tanpa henti juga begitu bukan? Mesti ada jeda mengistiratkan otak. Seperti penerapan bekerja efektif dengan tekhik Pomodoro yang menggunakan waktu maksimal hanya 25 menit. Kemudian diselingi istirahat selama 5 menit.

Hal ini senada dengan pernyataan Daniel Levitin, profesor psikologi, Behavior Neuroscience (Ilmu syarat tentang kebiasaan) dan Musik Universitas McGill, yang saya kutip di Buku Teach Like Finland.

Beliau percaya bahwa memberikan otak waktu untuk istirahat, melalui jeda yang teratur, akan mengarah pada produktivitas dan kreativitas yang lebih besar.

Dan Timothy D. Walker dalam bukunya berkesimpulan bahwa keuntungan mendasar dari istirahat Finlandia ini adalah cara untuk membuat anak-anak tetap fokus, yaitu dengan menyegarkan otak mereka.

4. Bahan Postingan Blog

Saya akan menjadikan studi kasus ini sebagai bahan postingan blog edukidia.com Yang menandakan blog edukidia.com adalah blog otoritas.

Saya percaya, postingan berbasis studi kasus itu menarik karena bukan hanya teori atau konsep. Dengan demikian, saya berharap Anda yang sering berkunjung ke blog saya tidak bosan.

Selain saya berharap blog ini benar-benar menyajikan manfaat ketimbang tulisan yang hanya menyumbang pemikiran-pemikiran luas dan ngambang. Namun tulisan yang real, dan lebih terperinci.

Sehingga Anda yang berkunjung dapat menjadi pengunjung loyal Blog taufikjunaidie.com.

Apa sample kelas yang saya pakai?

Dalam studi kasus ini akan memakai sampel peserta didik tingkat SD. Lebih tepatnya kelas 5.

Alasannya karena saya saat ini mengajar kelas 5 SD. Yah bisa dibilang sekalian menyelam minum air.

Kebetulan hal ini ada kesamaan dengan pengalaman Timothy D. Walker penulis Buku Teach Like Finland. Beliau juga awal mengajar di Finlandia adalah mengajar kelas 5 SD.

(catatan: Timothy D. Walker sebelumnya mengajar di AS kemudian merasa tidak tahan lagi mengajar di sana dengan sistem pendidikan yang cepat dan ketat. Kemudian mencari pengalaman baru mengajar di Finlandia dan merasakan perbedaan yang drastis ketimbang di AS) 

Itulah yang membuat saya merasa lebih tergerak untuk mencoba studi kasus ini.

Walau sampel studi kasus ini adalah kelas 5 SD,  namun  tetap bisa dijadikan referensi bagi Anda yang mengajar SMP atau SMA.

Sasaran studi kasus ini

Untuk membentuk sistem pendidkan seperti halnya Finlandia bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Mereka sudah mengalami proses yang bertahun-tahun.

Selain itu bisa jadi sistem di Finlandia belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia.

"Sistem di Finlandia belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia, tetapi tetap layak untuk dicoba..".

Hal ini bagai memindahkan pohon kurma dari padang tandus dan menanam di daerah tropis. Betul?

amun menurut saya bukanlah hal yang salah jika mencoba.

Jika memang hasil akhirnya penerapan istirahat 4 kali sehari dapat menghasilkan kualitas pendidikan seperti di Finlandia. Maka saya melalui studi kasus ini menentukan target sasaran studi kasus ini adalah:

  • Peserta didik merasakan kepuasan dalam belajar.
  • Menghilangkan kejenuhan belajar.
  • Meningkatkan semangat belajar.
  • Mendapatkan pengalaman baru.
  • Meningkatkan hasil belajar yang efisien.

Walaupun untuk mengikuti sistem di Finlandia bukan hanya satu langkah, namun saya percaya langkah awal ini merupakan salah satu wujud yang sudah bisa saya berikan untuk pendidikan bangsa ini.

Apa yang akan saya lakukan di studi kasus ini

Sebenanrnya saya tidak tahu persis apa yang akan saya lakukan dalam studi kasus ini. Namun sebisa saya, ada 3 hal yang akan saya lakukan, yaitu:

Ketiga hal tersebut akan saya infokan di postingan berikutnya.

Untuk sementara, itulah yang bisa saya informasikan dalam memperkenalkan studi kasus blog  ini. Jika Anda punya ide atau saran sehingga studi kasus ini lebih baik bagi saya atau lebih bermanfaat bagi Anda, silakan informasikan di bagian komentar.

4 komentar
Batal
Comment Author Avatar
21 Maret 2019 pukul 10.47
Rewrite comments from wordpress:

Nukman says

12 Oktober 2017 at 4:06 am

Utk saat ini saya hanya bisa membaca blog anda …semoga ttp semangat dlm studi kasus anda apapun nanti hasilnya, saya pribadi ttp akan membaca di blog anda. Harapan besar utk dunia pendidikan di Indonesia.
Comment Author Avatar
21 Maret 2019 pukul 10.47
Rewrite comments from wordpress:

Taufik Junaidie says

12 Oktober 2017 at 12:11 pm

Hai Bapak Nukman.. Sebelumnya saya ucapkan salam kenal..

Terimakasih sekali atas apresiasi Bapak..

Saya berharap akan banyak orang-orang seperti Bapak yang juga memiliki harapan besar untuk dunia pendidikan di Indonesia.

Semoga ke depan pendidikan Indonesia semakin maju. Amin
Comment Author Avatar
21 Maret 2019 pukul 10.47
Rewrite comments from wordpress:

Nurend says

12 Oktober 2017 at 1:03 am

Seandainya memang aturan pendidikan kita bisa seperti itu???
Kita ini diikat oleh aturan dan sistem.apalagi untuk sekolah2 milik diknas. Guru tdk diberi ruang untuk leluasa mengaktifkan kegiatan BM karena dana.
Ada Bos hanya itu dan No Pungli alias sekolah gratis….tis….
Pengen buat media terjanggal dana apalagi kita hanya seorang GTT. Bismillah….. Semoga tetap diberi kekuatan oleh Alloh.
Comment Author Avatar
21 Maret 2019 pukul 10.47
Rewrite comments from wordpress:

Taufik Junaidie says

12 Oktober 2017 at 12:07 pm

Hai Ibu Nurend.. Sebelumnya saya ucapkan salam kenal..

Betul yang ibu sampaikan sistem kita diikat oleh aturan. Mungkin ini salah satu yang mempengaruhi kualitas pendidikan negara kita.

Terbukti negara kita menduduki peringkat 60 dari 61 jajaran negara literasi dunia.

Namun kalau boleh, saya bersama Ibu dan kawan-kawan guru, menjadikan hal ini sebagai tantangan buat kita semua.

Saya yakin, segala kesulitan pasti ada jalan. 🙂

Terimakasih Ibu atas doanya. Semoga Ibu juga diberi kekuatan oleh Allah Subhana Wata’ala. Amin.